Pendidikan Pesantren Di Tengah Kapitalisasi Pendidikan
Pendidikan Pesantren Di Tengah Kapitalisasi Pendidikan
Yoga Dwi Saputra
Institut Agama Islam Negeri Metro
Jl. Ki Hajar Dewantara 15 A Kota Metro
Email : yogadwisaputra38@gmail.com
Abstrak
Pada dasarnya manunisia memerlukan sebuah pendidikan. Melalui pendidikan masyarkat setidaknya mengerti sesuatu hal yang dahulunya belum diketahui oleh mereka. Pendidikan juga merupakan sebuah cara sebagai alat untuk memotong angka kemiskinan yang ada di negeri ini. Pendidikan juga bisa digunakan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia.Tujuan didirikannya sebuah pendidikan berguna untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.Pesantren adalah lembaga pendidikan islam yang ada di Indonesia. Lembaga ini memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat. Lembaha ini mempunyai unsur yang sangat penting yang tidak dapat dipisahkan dalam perkembangan pesantren yaitu Kyai, santri,pondok,masjid serta kitab klasik. Banyak didapatkan di pesantren dan itu semua dapat diterapkan di kehidupan masyarakat. Adanya kapitalisasi pendidikan membuat pendidikan terasa amat mahal. Seiring berjalannya waktu,serta adanya sebuah Globalisasi yang beredar di masyarakat. Membuat ideologi tersebut mudah bermunculan,seperti halanya kapitalisasi pendidikan. Kapitalisasi merupakan paham sekaligus budaya orang barat. Ideologi ini muncul dan sekaligus memberikan efek yang sangat luar biasa bagi kehidupan masyarakat. Adanya perbedaan faktor ekonomi membuat pendidikan hanya dirasakan oleh pemilik ekonomi yang kuat. Adanya kapitalisasi pendidikan membuat pendidikan semakin mahal. Mahalnya biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Apalagi masuknya pasar modal yang memberikan dana segar, sehingga pendidikan menjadi sedikit mahal sekaligus menjad iliberal dalam upaya perkembangan dalam adaptasi dengan tangguhnya pasar modal. Namun, adanya kapitalisasi pendidikan pesantren tak gentar dan tetap mengajarkan ilmu ilmu kepada santri guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Oleh karena itu pendidikan menjadi sebuah kebutuhan yang amat penting bagi kehidupan manusia yang harus di penuhi serta Pendidikan juga dijadikan sebagai sebuah kebutuhan primer dan tak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Keywords : pendidikan, kapitalisasi, dan pesantren.
A. Pendahuluan
Pendidikan merupakan salah satu aspek penting bagi kehidupan masyarakat. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kemajuan sebuah negara salah satunya tergantung kepada sistem pendidikan. Apabila pendidikan di suatu negara tersebut berkualitas dapat dipastikan akan terciptanya masyarakat dan negara yang baikdapat memajukan suatu negara. Namun sebaliknya, apabila di suatu negara tersebut pendidikannya kurang baik atau masyarakat tersebut mengenyam pendidikan dapat dipastikan bahwa suatu negara tersebut tertinggal dan sulit berkembang. Bahkan negara tersebut bisa mengalami kemuduran.
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan di Indonesia. Lembaga tersebut termasuk lembaga pendidikan tertua dan pesatren juga merupakan salah satu bukti penyebaran islam di Indonesia. Pesantren memiliki peran penting terhadap masyarakat mengenal betapa pentingnya pendidikan agama. Ilmu ilmu yang telah didapatkan dari pesantren dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari hari. Sehingga ilmu yang didapatkan dapat dirasakan betapa pentingnya ilmu agama bagi kehidupan.
Seiring berjalannya waktu, pendidikan peningkatan yang sangat pesat. Namun dibalik kemajuan tersebut, biaya yang diperlukan guna menempuh pendidikan amat mahal. Namun itu semua sepadan dengan fasilitas yang telah disediakan oleh lembaga tersebut. Apalagi sekarang ditambah dengan adanya kapitalisasi pendidikan. Membuat masyarakat menengah kebawah sedikit kesulitan untuk mencari modal sehingga menyebabkan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.
Persoalan persoalan yang dihadapi pendidikan di neeri ini cukup rumit dan pelik. Ditambah lagi mahalnya biaya pendidikan di setiap jenjang membuat masyarakat menengah kebawah menjerit. Serta adanya pemungutan oleh pihak sekolah membuat biaya pendidikan setiap tahunnya pun mahal.
Mahalnya pendidikan tersebut tidak terlepas dari diterapkan sitem kapitalisasi pendidikanyang menjadi sebuah ancaman yang sangat besar bagi masyarakat terkhusus masyarakat menengah kebawah. Adanya sebuah kapitalisasi pendidikan dapat menghancurkan nilai dan moral manusia.Apakah keadilan sudah dirasakan oleh semua kalangan? Atau siapa yang mempunya modal yang kuat lah itu yang menang? Kita sebagai warga yang demokratis harus mengeluarkan aspirasi kita agar tercapai Indonesia yang sejahtera adil dan makmur.
B. Metodologi Penelitian
Jurnal yang berjudul Pendidikan Pesantren DiTengah Kapitalisasi Pendidikan ini menggunakan metode yakni Studi Pustaka. Pengertian Studi Pustaka yaitu cara-cara yang dilakukan untuk mengumpulkan Informasi berupa bantuan dari berbagai sumber referensi seperti buku, jurnal, majalah dan lain sebagainya yang berada diperpustakaan. Studi Pustaka yaitu mempelajari berbagai sumber referensi yang telah diterbitkan sebelumnya yang bertujuan sebagai dasar landasan teori. Penelitian ini juga mengunakan pendekatan fenomenologi yaitu dengan menggunakan cara untuk menganalisa suatu tempat, semisal pondok sebagai objek atau fakta-fakta yang terjadi di lapangan, seperti kondisi pendidikan yang terjadi saat ini
Selanjutnya bagaimana peristiwa tersebut bisa terjadi, serta menganalisis hal-hal yang terjadi. Seperti menganalisis peran pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis agama dan apakah pesantren terlibat atau tidak dalam kapitalisasi Pendidikan serta membawa tujuan awal pesantren yaitu membentuk manusia beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. kemudian menjadi manusia yang mampu memiliki pengetahuan yang luas mengenai ilmu, baik itu ilmu dunia maupun ilmu akhirat.
Adapun teknik penyusunan data mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan topik yang akan dibahas selanjutnya, seperti buku, jurnal dan lain sebagainya. Hal tersebut digunakan untuk menyusun data-data yang akan di tulis yang berkaitan dengan topic pembahasan. Data yang akan digunakan tersebut di peroleh dari sumber-sumber yang telah di terbitkan sebelumnya.
Setelah itu data digabungkan serta di pahami lalu di kaji kedalam penulisan yang lebih sistematis dengan tujuan mampu mencapai tujuan yang diinginkan yaitu untuk mengetahui bagaimana Pendidikan Pesantren Di Tengah Kapitalisasi Pendidikan.
C. Kajian Teori
Pendidikan pesantren
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Lembaga ini merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua yang ada di negeri ini. Pesantren adalah lembaga pendidikan yang sederhana. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren awal mulanya berbentuk tradisional. Para santri tinggal dan belajar dibawah asuhan kyai dan menetap di sebuah asrama. Menurut bahasa istilah asrama atau pondok adalah bangunan yang digunakan untuk menginap dan menetap selama menuntut ilmu.
Istilah pesantren di setiap daerah memiliki nama yang berbeda-beda. Di daerah Jawa nama pesantren sering kali disebut dengan nama pondok atau pondok pesantren, di wilayah Aceh pesantren disebut dengan nama Dayah. Sedangkan di wilayah Minangkabau nama pesantren kerap kali disebut dengan nama Surau. Lembaga ini adalah sebuah instansi yang memiliki kekhasan yang telah terkenal sejak zaman dahulu. Awal mula berdirinya, pesantrenmemiliki bangunan yang sangat sederhana, segala aktivitas dilakukan di langgar oleh beberapa santri dan terus berkembang sesuai berjalannya waktu sehingga terbentuklah sebuah pondok.
Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan tradisional . para santri tinggal bersama para kyai dan menginap di sebuah asrama. Secara bahasa pesentren berasal dari bahasa arab yaitu funduq yang berarti asrama atau tempat tinggal. Sedangkan menurut istilah pesantren merupakan tempat menginap para santri selama menuntut ilmu.Pondok pesantren dapat diartikan sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, dimana seorang kyai mengajarkan ilmu tentang keagamaan kepada santri dengan menggunakan kitab kitab.
Menurut Muchtar Buchori pesantren merupakan komponen yang sangat penting bagi pendidikan Islam yang ada di negeri ini secara tradisional. Sedangkan menurut Amin Abdullah pesantren memiliki berbagai jenis, pesantren juga sebagai salah satu pusat penyebaran ilmu dan agama Islam yang ada di negeri ini.
Istilah pesantren berasal dari kata pe santri an. Yang memiliki imbuhan kata berupa pe dan di akhiri dengan kata an. Pesantren merupakan julukan untuk sebuah asrama atau tempat tinggal para santri.Lembaga ini memiliki beberapa unsur yang wajib ada dalamkeberlangsungan Pendidikan Pesantren yaitukyai,santri,masjid,asrama dan pembelajaran kitab kuning.
Menurut M.Dawam Rahardjo pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan berbasis keagamaan yang mengajarkan, mengembangkan serta menyebarkan luakan ilmu tentang agama islam. Adanya asrama dalam sebuah pesantren bertujuan untuk memaksimalkan Pendidikan yang menitikberatkan terhadap kajian keislaman dengan visi mencetak insan yang taat kepada Allah SWT. Diharapkan santri tersebut dapat menerapkan ilmu yang telah di peroleh dalam kehidupannya. Selain itu santri diharapkan kelak dapat menyebarkan ilmu yang telah di peroleh di pesantren kepada masyarakat luas pada umumnya.
Keberadaan lembaga ini sudah tidak diragukan kembali, lembaga ini sudah ada sejak nama Indonesia belum ada. Lembaga ini menggunakan sistem asrama yang nantinya para santri tersebut akan menerima ilmu yang diajarkan oleh kyai semisal kitab kuning. Menurut A. Wahid Zaini walaupun ada beberapa orang mengatakan bahwa lembaga ini mencontoh sistem milik Hindu Budha,Tetapi secara konsep lembaga ini sudah di kenal sejak dahulu.
Adapun sebagai orang mendefinisikan bahwa pesantren sebagai bangunan institusi sendiri,sejenis bangunan sederhana dan seorang kyai dan dibantu oleh para guru lainya untuk membimbing dalam belajar ilmu-ilmu agama. Dalam catatan sejarah penyebaran Islam pesantren memiliki andil yang sangat besar dalam menjaga kehidupan sosial,Budaya dan apa yang ada di masyarakat.
Lembaga inidijadikan sebagai tempat rujukan belajar untuk mengenai ilmu ilmu keagamaan. Lembaga ini memiliki beberapa unsur di dalamnya sehingga lembaga pendidikan ini menjadi khas yaitu diaturannya adalah kyai, santri, masjid, pondok dan pembelajaran mengenai kitab kitab klasik.
Didirikan sebuah pesantren bukan untuk mendapatkan uang bahkan tahta. Namun adanya sebuah pesantren guna menanamkan kepada semua orang bahwasanya belajar adalah kewajiban semua orang serta bentuk pengamdian kepada allah.Lembaga ini juga memiliki sitem pembelajaran berbeda dengan lembaga pendidikan pendidikan formal lainnya.
Sistem tersebut menggambarkan sebuah tradisi, dimana tradisi tersebut menekankan kepada santri sebuah etika dalam pembelajaran. Lembaga ini disebut-sebut sebagai gaya pendidikan islam yang mempengaruhi kekhasan tersendiri. Beragam jenis pesantren di negeri ini membuktikan bahwa lembaga ini juga bisa digunakan sebagai dakwah untuk menyebarkan islam di negeri ini.
Kapitalisasi Pendidikan
Pendidikan merupakan sebuah gerakan yang dilakukan pendidik kepada perserta didik menuju ke arah masa depan, baik jasmani maupun rohani. Pendidik memberikan sebuah pembelajaran, seperti menulis, menghitung, membaca dan lain sebagainya. Pendidik juga memberikan motivasi motivasi atau suntikan semangat kepada perserta didik, setidaknya yang dulu belum menjadi tahu agar kelak kedepannya tidak kesulitan dalam menjalani kehidupan. Sehingga kedepannya peserta didik mampu bersosialisasi atau berbaur dengan masyarakat dan dapat berguna bagi bangsa dan negara.
Dalam undang undang no.23 tahun 2003 telah dijelaskan bahwa pendidikan adalah sebuah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar perserta didik secara aktif untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepripadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan untuk dirinya, masyarakat bangsa dan negara.
pendidikan tidak dapat dipisahkan oleh masyarakat. Karena masyarakat mempunyai peran penting dalam berlangsungnya sebuah pendidikan. Pada intinya pendidikan adalah sebuah sarana yang berguna untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Oleh sebab itu pedidikan menjadi sebuah kebutuhan penting bagi manusia yang harus di penuhi dan pendidikan dijadikan sebuah kebutuhan primer bagi manusia.
Kapitalisasi pendidikan telah mendampingi pendidikan sebagai alat yang telah menciptakan para pekerja di berbagai bidang industri.Adanya sebuah kapitalisasi pendidikan mencerminkan sebuah keadaan dimana pendidikan yang ada waktu ini lebih menuju kepada sebuah praktek baik perusahaan yang menghasilkan sebuah alat yang disiapkan untuk mencukupi sebuah kebutuhan industri.
Kapitalisasi pendidikan adalah sebutan yang dipakai dan terpusat pada sebuah artian bahwasannya pendidikan tidak hanya alat mencari uang. Dalam sistem kapitalisme, apapun itu diukur dengan uang. Ada beberapa metode yang digunakan dalam pendidikan, kerap kali metode tersebut digunakan sebagai alat pembeda . bahkan dalam metode pendidikan islam bahwa pendidikan adalah sebuah alat untuk memanusiakan manusia.
Menurut Agus wibowo Kapitalisasi pendidikan mengacu kepada program pendidikan dan alat alat pendukung yang dinilai sangat mahal. Kapitalisasi pendidikan kerap kali dipakai instansi instansi terkait bahwasannya instansi tersebut menjamin fasilitas pendidikan, namun di balik itu semua tidak sepadan tentang pemungutan yang dilakukan oleh instansi tersebut. Lembaga pendidikan didirikan guna masyarakat memiliki wawasan dan mampu berfikir kritis terhadap segala aspek kehidupan.
Adanyaa sebuah Kapitalisasi di bidang pendidikan, Eko Prasetyo menceritakan dalam bukunya yang bertajuk "Orang Miskin Dilarang Sekolah" diketahui bahwa dalam sistem liberalisme pendidikan, sekolah tersebut hanya meluluskan orang-orang yang tidak memiliki skill dan kemampuan untuk bersaing sehingga orang tersebut menjadi pengangguran.
tersebut akan menambah jumlah pengangguran di negeri ini. Apabila sistem kapitalisasi ini terjadi, bagaimana dengan nasib tunas bangsa yang mempunyai tekad yang sangat kuat untuk memajukan negeri ini tapi terhalang dengan Krisis ekonomi. Bahkan dia menceritakan apa yang terjadi di lapangan bahwa orang miskin di negeri ini di kucilkan dan disiksa.
Menyadari hal itu, sebagai pengelola lembaga pendidikan setidaknya berhati hati dalam mengelola dan mengembangkannya agar tiak terjebak kedalam sebuah kapitalisasi pendidikan. Serta pengelola tersebut mengerti bahwa adeanya sebuah pendidikan bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat agar tidak tertinggal dari bermacam macam pengetahuan yang ada di dunia serta bisa berguna bagi bangsa dan negara.
D. Temuan-Temuan
Pesantren tidak termasuk kapitalisasi pendidikan
Dalam perkembangannya, pesantren tidak perlu diragukan kembali, apalagi sampai memunculkan kapitalisasi dalam pendidikan. Pesantren tidak mengenal adanya kapitalisasi pendidikan. Lembaga ini murni melaksanakan pengembangan pendidikan sesuai dengan syariat islam.
Pada hakikatnya pendidikan merupakan sebuah proses bagi seseorang untuk memperoleh pengetahan dan dapat dimanfaatkan untuk masa depan. Namun, proses pendidikan telah selama ini, seolah olah tidak sesuai dengan hakikat pendidikan. Pendidikan semata mata dilakukan untuk mencari rupiah.
Fungsi pendidikan pesantreen dapat dikatakan sebagai alat kendali seosial bagi masyarakat. Apabila terjadi penyimpangan sosial di masyarakat, maka pesantren sebagai pemegang kendali menjalankan sebagaimana mestinya. Hal ini sebagai sebuah bukti bahwa pesantren tidak terfokus pada nilai rupiah saja, tetapi sebagai wujud nilai kepedulian kepada nilai nilai pengajaran dan sampai kepada masyarakat.
Pesantren sebagai lembaga pendidikan juga berperan sebagai pemberdaya manusia yang berlandaskan kepada nilai nilai agama dan memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat. Pesantren melahirkan para tokoh tokoh besar seperti ulama dan kyai yang berperan sebagai pengawas dalam kehidupan masyarakat sosial.
Seiring berjalannya waktu, perkembangan teknologi serta adanya sebuah globalisasi yang bermunculan di masyarakat. Banyak ideologi ideologi yang bermunculan seperti kapitalisasi pendidikan. Kapitalis adalah ideologi sekaligus budaya orang barat. Ideologi ini muncul sampai sekarang dan memiliki efek domino yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat termasuk dunia pendidikan.
Sementara itu, apabila lembaga pendidikan lebih profesional dalam menghadapi sebuah kapitalisasi pendidikan maka institusi tersebut harus memiliki alat pendukung yang sesuai guna memajukan pendidikan tersebut agar tidak terjebak dalam kapitalisasi pendidikan.
Mahalnya biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Apalagi masuknya pasar modal yang memberikan dana segar, sehingga pendidikan menjadi sedikit mahal sekaligus menjadi liberal dalam upaya perkembangan dalam adaptasi dengan tangguhnya pasar modal.
Kapitalisasi dijadikan sebagai ladang bisnis, baik skunder maupun primer untuk diperjual belikan dan berdampak terhadap mahalnya biaya pendidikan serta penjualan jasa pendidikan.
Adanya upaya yang dilakukan pesantren dalam meningkatkan kualitasnya, itu semua merupakan peran kyai yang sangat penting. Karenaperan penting sang kyai itulah membuat salah satu faktor kemajuan pesantren. Perannya sangat vital. Tanpa adanya kyai, mungkin pembelajaran atau segala aktivitas yang berkaitan dengan pesantren tidak bisa berjalan dengan kondusif. Kyai juga harus bertindak dan tetap fokus, dimana peran dan fungsi tersebut diperlukan ajar Fungsi nya berjalan dengan baik.
mendidik para santrinya tidak melihat mereka dari kalangan atas atau bawah, semuanya sama. Namun yang terpenting bagi lembaga tersebut adalah tetap selalu memberikan ilmu ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat serta memberikan beberapa bekal guna menjalani kehidupannya setelah lulus dari pondok.
Kesimpulan
Dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan merupakan instrument penting bagi kehidupan masyarakat. Adanya sebuah pendidikan manusia dapat mengetahui ilmu ilmu yang dahulu tidak diketahuimya. Bahkan adanya pendidikan kita daiajari membaca, menghitung dan lain sebagainya. Kemajuan sebuah negara juga bergantung, salah satunya adalah pada pendidikan. Pada intinya pendidikan juga dapat digunakan untuk mengangkat harkat dan martabat manusia.
Pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan berbasis agama. Banyak ilmu ilmu yang diperoleh di pesantren, seperti ilmu dunia dan akhirat. Ilmu yang tela didapatkan dari pesantren diterapkan dalam kehidupan sehari hari adanya globalisasi membawa dampak positif dan negatif. Efek negatif yang timbul yaitu seperti masuknya ideologi ideologi barat. Dalah satu nya di bidang pendidikan adanya sebuah kapitalisasi.
Adanya kapitalisasi pendidikan menjadi mahal. Mahalnya biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Apalagi masuknya pasar modal yang memberikan dana segar, sehingga pendidikan menjadi sedikit mahal sekaligus menjadi liberal dalam upaya perkembangan dalam adaptasi dengan tangguhnya pasar modal.
Menyikapi hal itu, sebagai pengatur lembaga pendidkan harus berhati hati dalam melsaksanakan tugasnya. Jangan sampai tergiur oleh materialistik semata. Namun dalam tugasnya harus mengerti tujuan awal sebuah pendidikan yaitu sebagai media untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tapi dibalik itu semua sekarang pesantren menjadi salah satu pusat pendidikan yang ada di negeri ini dan ramai diminati oleh masyarakat. Selain itu pesantren memberikan manfaat yang sangat luar biasa bagi masyarakat luas.
Referensi
Agus Wibowo. Malpraktik Pendidikan. Yogyakarta: Genta Press, 2008.
Ahmad Darmaji, Pondok Pesantren Dan Dirabikalisasi Islam DiIndonesia,Millah XI, No.1 (agustus 2011).
Ahmad Muhakamurrohman, Pendidikan Pesantren : Santri, Kiai dan Tradisi, Jurnal Kebudayaan Islam 12, No.2 (Juli-Desember 2011).
Amir Fadhilah, “Struktur Dan Pola Kepemimpinan Kyai Dalam Peantren Jawa,” Hunafa : Jurnal Studi Islamika 8, No. 1 (juni 2011).
Andri Efferi. “Mengelola Lembaga Pendidikan Di Era Global.” Quality : Jurnal Pendidikan Islam 3, No. 1 (2015).
Asmirawati, Sulfasyah, Dan Jamaluddin Arifin. “Komersial Pendidikan.” Jurnal Equalibrium Pendidikan Sosiologi Iv, No. 2 (November 2016).
Darmaningtyas. Pendidikan Yang Memiskinkan. Yogyakarta: Galang Press, 2004.
Fathol Halik. “Pendidikan Pesantren Ditengah Tantangan Politisasi Dan Global Pesantren Madura Setelah Keruntuhan Orde Baru. Karsa Xv, No. 1 (April 2009).
Fihris. Pola Pendidikan Alternatif Bagi Masyarakat Nelayan Di Wonokerto Kabupaten Pekalongan. Cendikia 11, No. 1 (Juni 2013).
Hafid. Pendidikan Pesantren Dan Tantangan Modernisasi. Kariman 01, No. 01 (2013).
Hasan Bisri. Eksitensi Dan Tranformasi Pesantren Dalam Membangun Nasionalisme Bangsa. Al-Wijdan Iv, No. 2 (November 2019).
Herman, Sejarah Pesantrem Di Indonesia, Jurnal Al Tadib 6, No. 2 (Juli-Desember 2013).
Irfan Paturohman. Peran Pendidikan Dalam Perbaikan Kondisi Keberagaman Di Lingkunganya. Jurnal Tarbawi 1, No. 1 (2012).
Ismail Suardi Wekke. Integrasi Pendidikan Islam Dan Pembelajaran Kewirausahaan Di Pesantren Minoritas Muslim. Fenomena 9, No. 1 (2017).
M. Irfan Islamy, M. Bashori Muchsin, Dan Yuli Andi Gani. Upaya Pondok Pesantren Dalam Pemberdayaan Masyarakat Hutan. Jurnal Tarbawi 1, No. 1 (2012).
M. Syaifuddien Zuhriy. Budaya Pesantren Dan Pendidikan Karakter Pada Pondok Pesantren Salaf. Jurnal Walisonggo 19, No. 2 (2011).
Marjuni. Kapitalisme Dan Pendidikan Leberal. Jurnal Sulisena 6, No. 2 (2011).
Maulana Arif Setyawan. UU Pesantren Local Genius San Intervensi Negara Terhadap Pesantren. Manageria Jurnal Manajemen Pendidikan Islan 4, No. 1 (Mei 2019).
Miftachul Ulum. Eksitensi Pendidikan Pesantren Kritik Terhadap Kapitalisasi Pendidikan. Talim Jurnal Studi Pendidikan Islam 1, No. 2 (Juli 2018).
Moh Taufik. Resistensi Gerakan Mahasiswa Terhadap Kapitalisasi Pendidikan. Paradigma 2, No. 3 (2014).
Moh. Baidlawi, Modernisasi Pendidikan Islam (Telaah Atas Pembaharuan Pendidikan Di Pesantren), Tadris 1,No. 2 (2006).
Muhammad Solihin. Kapitalisme Pendidikan (Analisis Dampaknya Terhadap Upaya Mencerdaskan Kehidupan Bangsa). Nur El-Islam 2, No. 2 (Oktober 2015).
Muhammad Heriyudanta, Moderenisasi Pendidikan Pesantren Prespektif Azyumardi Azra, Mudarisa : Jurnal Kajian Pendidikan Islam 8, No.1 (Juni 2016).
Mujahidun, Pemerataan Pendidikan Anak Bangsa : Pendidikan Gratis Versus Kapitalisme Pendidikan,Tarbiyatuna 7, No.1 (juni 2016).
Nanang Martono. Kritik Sosial Terhadap Praktik Pendidikan Terhadap Film Laskar Pelangi. Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan 16, No. 3 (2010).
Rappe. Kapitalisme Dan Pendidikan Liberal Kapitalistik. Lentera Pendidikan 14, No. 2 (Desember 2011).
Sholihin Ummu. Peran Ict Salam Moderenisasi Pendidikan Pesantren. Cendikia : Jurnal Kependidikan Dan Kemasyarakatan 10, No. 10 (2012).
Zaini Hafidz, Badrudin, “Pesantren Dan Kemandirian Perekonomian : Studi Tentang Kewirausahaan Di Pondok Pesantren Ar-Risalah Cijantung IV Ciamis,” Jurnal Managemen Pendidikan Islam 3, No.2 (November 2018).
Komentar
Posting Komentar